Belajar dari Cerita Sungai dan Gurun

 

Dalam minggu-minggu ini ramai dibicarakan diberbagai media cetak dan elektronik tentang Kekalahan Tim Nasional Sepak Bola kita dalam kejuaraan Piala AFF 2012.  Ada beberapa tokoh yang mengatakan bahwa kekalahan Indonesia terhadap Malaysia disebabkan karena polemik dua kubu yang belum bisa disatukan.  Dilain berita tiba-tiba Bupati Garut Aceng Fikri menjadi selebritis dadakan, karena perkawinannya dengan seorang perempuan "hanya" bertahan dalam 1 hari, sedangkan 3 harinya sang Bupati banyak berpikir dan mempertimbangkan kelanjutan perkawinannya.  Sehingga sang Bupati akhirnya cuma mampu bertahan dalam 4 hari perkawinannya.  Belum lagi cerita seorang Jenderal bintang dua yang menjadi top berita dimana-mana.  Soal KPU Pusat tentang Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) merekomendasikan Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk memberhentikan pejabat di Sekretariat Jendral KPU juga tak lepas memberikan warna masalah sembrautnya wajah Indonesia. Sebagai bahan inspirasi perenungan kita (terutama diri penulis), mari kita mengenang cerita sungai yang ingin airnya sampai ke laut.

Cerita ini diawali dari sebuah gurun yang maha luas.  Di gurun tersebut tidak ada sebatangpun pohon yang terlihat.  Yang ada hanya tiupan angin kencang, sehingga membentuk tumpukan pasir menyerupai bukit pasir yang selalu berubah-ubah tempatnya.  Pada saat itulah sungai menumpahkan airnya ke gurun tersebut.  Tentu saja air tersebut hilang tak berbekas.  Dengan rasa marah sungai kembali menumpahkan airnya ke gurun, tapi air itupun kembali sirna tak terlihat hilang ditelan bumi.  Sungai terus menumpahkan air dan melakukannya berulang ulang tapi air yang ditumpah itupun berkali-kali tidak bisa "Mengalir" sesuai dengan keinginan sang sungai yaitu air yang ditumpahkannya dapat mencapai sungai yang lebih besar yang akhirnya bisa mencapai laut.  Karena usahanya gagal maneh-gagal maneh, akhirnya sang sungaipun berdiam diri untuk merenungkan kegagalannya.  Sambil bertanya dalam hati, sang sungai berkata.."Kenapa usahaku gagal, padahal kekuatanku bisa merobohkan apapun yang menghalangiku" begitu kata hatinya.  Namun suara hati sang sungai terdengar oleh sang gurun.  Maka sang gurunpun memberikan saran kepada sang sungai. "Kenapa kamu tidak mengikuti arah tiupan angin yang ada, dan memanfaatkan suhu yang ada dibadanku untuk menjadikannya butir-butir air yang dibawa angin ke udara kemudian ditiupkan angin menuju laut dan dilepaskan lagi dalam bentuk hujan.." begitu sang gurun memberikan saran.  Dengan hati gembira sang sungaipun akhirnya mengikuti saran sang gurun dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Tidak berapa lama, air yang dibawa sungai sudah sampai menuju laut yang didambakannya.

Apakah yang dapat diambil dari cerita di atas? silakan buat teman-teman membuat analisa masing-masing. 

Judul Asli : Indonesia, Kamu Kenapa..?
Sumber : http://weblogask.blogspot.com/2012/12/sungai-gurun-dan-pencapaian-tujuan-akhir.html
Belajar dari Cerita Sungai dan Gurun 4.5 5 Agus Mincom Dalam minggu-minggu ini ramai dibicarakan diberbagai media cetak dan elektronik tentang Kekalahan Tim Nasional Sepak Bola kita dalam kejuar...


4 komentar:

  1. wahai angin, kemana ikam, mun pas sama tujuan, umpat auk

    BalasHapus
  2. tetap semanagat, yakinlah pasti bisa melewati segala rintangan

    BalasHapus

Mohon komentarnya dengan bahasa yang sopan, terima kasih atas kunjungannya.