Indigenous People

 

Lestari Kawasan Hutan -- Lestari Hutanku ; tidak selalu sama dengan

Potensi hutan terhadap kemandirian energy (listrik)

WOOD PELLET kata inspirasi baru dari analogi kayu bakar.

Bertani Kayu atau Berkebun Kayu.

Nilai ekonomi kayu untuk produk olahan dari kayu baru terukur setelah berada di pasar (baca; user alias pengguna). Karenanya kayu tegak di hutan nilai ekonomisnya tak terukur untuk kepentingan global sebagai produsen oksigen.

Bagi masyarakat di dalam dan sekitar hutan, kayu bukanlah barang ekonomi yang patut dijaga dengan sepenuh jiwa. Ditambah dengan kondisi aksesibitas yang identik dengan buruk sampai sangat buruk maka berbagai gangguan terhadap keberadaan kayu di hutan makin tak terpantau.

Akibatnya pertanyaan lugu dan sederhana melalui nalar lurus dan tegas; kenapa disebut (ditetapkan) sebagai kawasan hutan padahal kayu –pun tak tampak berganti alang alang dan semak belukar?

Hutan berkayu besar sehingga pucuknya tak tampak oleh mata adalah dongeng pengantar tidur.

Telah lama dinyakini bahwa pendekatan kemaslahatan bagi masyarakat di dalam dan di sekitar hutan adalah kunci kepada kelestarian hutan dan kayu itu sendiri. Jadi bukan kelestarian kawasan hutan. Ahli sepaham dengan pemerintah bahwa the indigenous people adalah sekelompok sosok yang harus dapat menikmati manfaatkan kesejahteraan dari hutan sebagai bagian dari lingkungan hidup dan perikehidupan mereka.

Bejibun contoh menunjukkan bahwa bila hutan terasa manfaatnya bagi perbaikan ekonomi warga local yang berada dalam dan sekitar hutan dan kayu maka kelestarian bukan lagi kata tanpa makna. Tapi menjadikan kelestarian sebagai sebuah keniscayaan. Namun dari banyak contoh ini, bahwa hasil hutan yang mendorong pada peningkatan taraf hidup tersebut biasanya berupa hasil hutan bukan kayu seperti getah pinus, damar dari kelompok kayu meranti, rotan yang bersimbiosa dengan kayu, lebah madu dan propolis. Belakangan lateks dari kayu karet.

Bahwa semua contoh kesuksesan itu kecuali lebah memerlukan waktu yang lama paling rendah 6 sampai dengan 7 tahun. Sehingga satu periode Menteri Kehutanan belumlah nampak hasilnya.

Beberapa program seperti Kebun Bibit Rakyat, Gerakan Rehabilitasi Lahan adalah kegiatan bukan tanpa nilai, tapi masih berpola sama seperti Gerakan Tanam Sejuta bahkan SeMIlyar Pohon. Sebuah kegiatan yang terasa sangat primitive dimana seakan sengaja mengabaikan kata "pemeliharaa". Sebuah kata yang memaknai akan adanya waktu yang yang lama ; tantangan iklim yang ekstrem dewasa ini, tantangan kebakaran yang belum jelas direncanakan atau kecelakaan yang berarti bencana. Terutama tantangan anggaran dan pengawasannya.

Hutan Tanaman Rakyat (IUPHHK HTR) adalah program yang menempatkan otonomi dan penghargaan pada masyarakat setempat. Namun hanya kegiatan yang bermuara pada pemanfaatan berdurasi pendek sependek pendeknya akan menjadi salah satu jawaban akan kelestarian alam dengan kesejahteraan manusia indigenous.
Kita akan telaah lebih jauh tentang wood biomass pellet sebagai substitusi batubara yang konon oleh iklim dan tempat khusus berasal dari kayu juga. Wood pellet dapat dibuat dari kayu yang berumur 2 tahun sementara swantimber – bercermin dari fast grow sepert acacia dan jabon baru layak panen di atas sepuluh tahun. Bila dipadukan kita dapat menaman 10000 (sepuluh ribu) pokok dalam satu hektar. Lalu panen untuk wood pellet pada usia 2 tahun sebanyak 5000 (lima ribu) pokok, tahun ketiga panen lagi 2500 pokok, tahun ke empat 1250 pokok dan tahun kelima 625 pokok. (berapa asumsi volume kita

Indigenous People 4.5 5 Ahmad Faisal Lestari Kawasan Hutan -- Lestari Hutanku ; tidak selalu sama dengan Potensi hutan terhadap kemandirian energy (listrik) WOOD PELLET kat...


3 komentar:

  1. sangat menarik pada pernyataan; gerakan menanam yang yang mengabaikan pemeliharaan, istilah kitanya 'tanam buang' tu untuk tanaman pepaya ataupun waluh. He..he mantap Om-ai Pian.

    BalasHapus
  2. Sabar boss sidin benapas dulu..

    BalasHapus

Mohon komentarnya dengan bahasa yang sopan, terima kasih atas kunjungannya.