Nasib Penghina Rasul SAW

 

KEBINASAANLAH bagi penghina Rasulullah SAW, hal ini terbukti dalam sejarah khususnya pada masa-masa pertama Islam. Tercatatlah Abu Lahab, paman Nabi Muhammad SAW sendiri. Suatu hari Nabi SAW berdakwah di bukit Safa, bahwa di akhirat tidak akan ada yang selamat kecuali beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

Dari kerumuman orang banyak muncullah Abu Lahab, Ia menunjuk wajah Nabi Muhammad SAW, dan berkata dengan kasar: “Hanya untuk inikah kami kau kumpulkan wahai Muhammad, celakalah kau.” Turunlah surah Al-Lahab yang menyatakan kedua tangan Abu Lahablah yang celaka.

Pada tahun 2 H, Abu Lahab stres mendengar kekalahan Quraisy Makkah di perang Badar (ia tidak ikut perang itu). Orang yang memberitakan kekalahan itu dipukulnya. Seminggu kemudian Abu Lahab diserang penyakit bisul yang sangat parah, ia tewas akibat penyakit itu.

Jasadnya dilemparkan begitu saja ke dalam lubang kubur tidak ada yang berani menjamah, takut ketularan penyakit bisul seperti image orang pada masa itu. Harta dan segala usahanya tidak bisa membela dirinya, Surah Al-Lahab adalah ketetapan Allah SWT bahwa Abu Lahab akan masuk neraka.

Istrinya Ummu Jamil (ibu cantik) penyebar fitnah agar masyarakat Makkah memusuhi Muhammad SAW, juga divonis Allah SWT masuk nereka. Seorang perempuan seharusnya di lehernya ada kalung emas bertatah perhiasan, tetapi di leher Ummu Jamil akan diikatkan tali kasar untuk menyeretnya ke dalam neraka.

Putranya Utbah adalah menantu Nabi SAW. Istrinya adalah Ummi Kultsum putri Nabi SAW, ia serahkan kepada Nabi SAW dengan kasar sambil meludah: “ini anak tuan aku kembalikan.” Nabi SAW berdoa: “Ya Allah kirimlah kiranya seekor singa untuk menerkamnya.”

Benarlah kira-kira enam bulan kemudian, Utbah tewas diterkam seekor singa di tengah malam ketika ia ikut kafilah dagang yang pergi ke Syam, mengherankan singa itu tidak mengganggu yang lain.

Ada banyak orang yang mengolok-olok Nabi SAW dengan berbagai cemoohan; ada yang menuduh Nabi SAW pembohong, peramal, penyair, pembuat legenda bahkan ada yang merenggutnya dengan surban ketika beliau sedang salat.

Turunlah firman Allah SWT: “Kami memeliharamu dari orang-orang yang mengolok-olok itu” (QS Al-Hijr 95). Jibril as diperintahkah Allah SWT untuk menghukum para penghina itu. Mereka itu ialah Walid bin Mugirah ditunjuk Jibril di tumit, ia terpijak anak panah dan tidak bisa dicabut, sehingga ia tewas kesakitan.

Ash bin Wa’il ditunjuk Jibril as di telapak kaki, ia pun terpijak duri, kakinya bengkak dan ia tewas kesakitan; Aswad bin Muthallib ditunjuk Jibril as di mata, ia pun buta seketika; Adiy bin Qais, ditunjuk Jibril as dihidung, ia pun terserang flu berat, ingus dan nanah bercampur darah meleleh dari hidungnya, akhirnya ia tewas kesakitan.

Selain itu; Aswad bin Abdu Yagus ditunjuk Jibril as di batok kepalanya ketika ia duduk di bawah sebatang pohon, sewaktu berdiri, kepalanya terantuk dahan kayu itu dan wajahnya tertusuk duri, ia tewas seketika. Inilah yang difirmankan Allah SWT di dalam QS Al-Maidah 26 yang maksudnya bahwa: “azab itu datang menimpa mereka dari arah yang tidak mereka sadari” (At-Tafsir Al-Kabir, Imam Al-Fakh Ar-Razi, Juz 19, hal 215).

Abu Jahal dan kawan-kawannya sering menaruh kotoran unta di kepala Nabi SAW ketika beliau salat. Nabi tidak bangkit dari salatnya kecuali setelah Fatimah putrinya datang membersihkannya sambil menangis; mereka itu ialah Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabihah, Walid bin Utbah, Umayah bin Khald, dan Ukbah bin Maith.

Nabi SAW berkata: “Kuserahkan kepada Engkau, apa vonis-Mu wahai Allah terhadap semua mereka itu.” Dalam perang Badar semua mereka itu tewas mengenaskan, kepala-kepala mereka dipenggal oleh tentara berbaju putih yang tidak tahu dari arah mana datangnya, menurut riwayat itulah para malaikat. (Bonus majalah Al-Azhar, no. 6.000/7/1973)

Demikianlah di saat-saat Nabi SAW dan umat Islam tidak bisa membela diri karena tidak mempunyai kemampuan, Allah SWT lah yang menghukum para penghina itu. Berkaca kepada riwayat ini, kita yakin bahwa para penghina Rasul SAW akan mendapat hukuman yang tidak diketahui  datangnya.

Para penghina Rasul SAW dewasa ini, dimanapun berada dan kemanapun pergi selalu merasa takut, mereka waswas karena merasa selalu ada yang membuntuti untuk membunuh. Kehilangan rasa aman dalam kehidupan adalah petaka besar dan itulah salah satu bentuk hukuman bagi para penghina Rasul SAW. Jangan hina Rasul kami. (*)
Oleh: KH Husin Naparin Lc MA
sumber : http://banjarmasin.tribunnews.com/2012/10/05/nasib-penghina-rasul-saw
Nasib Penghina Rasul SAW 4.5 5 Agus Mincom KEBINASAANLAH bagi penghina Rasulullah SAW, hal ini terbukti dalam sejarah khususnya pada masa-masa pertama Islam. Tercatatlah Abu Lahab, ...


1 komentar:

Mohon komentarnya dengan bahasa yang sopan, terima kasih atas kunjungannya.